Peristiwa

Dua Helikopter Jatuh dalam Empat Hari, Keselamatan Operasi Karhutla di Kalimantan Dipertanyakan

41
×

Dua Helikopter Jatuh dalam Empat Hari, Keselamatan Operasi Karhutla di Kalimantan Dipertanyakan

Sebarkan artikel ini

HALLO NUSANTARA || KALIMANTAN SELATAN — Dua kecelakaan helikopter dalam rentang empat hari saat operasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan menempatkan aspek keselamatan penerbangan dalam sorotan. Insiden terbaru terjadi di perairan Sungai Barito, Desa Tabatan Baru, Kecamatan Kuripan, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, Minggu (8/11/2026).

Helikopter jenis Eurocopter EC225LP Super Puma bernomor registrasi VH-HGM yang dikontrak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dilaporkan jatuh ketika menjalankan misi pengeboman air atau water bombing.

BNPB menyatakan tiga orang kru yang berada di dalam helikopter berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat. Kecelakaan tersebut terjadi sekitar pukul 11.58 WITA.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyampaikan bahwa Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi telah menerima laporan awal mengenai kejadian tersebut.

Tim penanganan dikerahkan ke lokasi untuk melakukan evakuasi dan penanganan insiden. Helikopter yang jatuh juga dilaporkan berhasil dipindahkan ke tepian sungai.

Tiga Kru Selamat, Kronologi Kecelakaan Masih Didalami

Tiga kru yang berada di dalam helikopter masing-masing Michael John Betteridge, warga negara Australia; Hugh Andrew John, warga negara Selandia Baru; dan Yayan, warga negara Indonesia.

Berdasarkan informasi awal BNPB, rekaman video amatir memperlihatkan helikopter mengalami gangguan kendali ketika melakukan manuver setelah mengambil air menggunakan perangkat bambi bucket.

Meski demikian, rekaman tersebut belum dapat dijadikan dasar untuk memastikan penyebab kecelakaan.

BNPB belum mengumumkan kesimpulan mengenai faktor yang menyebabkan helikopter kehilangan kendali dan jatuh ke perairan Sungai Barito. Pemeriksaan teknis dan penyusunan kronologi menjadi bagian penting untuk mengungkap rangkaian kejadian tersebut.

Helikopter dengan nomor seri pabrikan atau Manufacturer Serial Number (MSN) 2878 itu merupakan armada milik perusahaan swasta yang dikontrak BNPB untuk mendukung operasi penanganan karhutla melalui jalur udara.

Kecelakaan Kedua dalam Empat Hari

Peristiwa di Barito Kuala bukan satu-satunya kecelakaan helikopter yang terjadi dalam rangkaian operasi penanganan karhutla di Kalimantan.

Empat hari sebelumnya, tepatnya 4 November 2026, helikopter MI-17 milik TNI Angkatan Darat juga mengalami kecelakaan di kawasan perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. Insiden tersebut dilaporkan menewaskan tiga orang.

Dua peristiwa itu memiliki lokasi, jenis armada, dan konsekuensi korban yang berbeda. Namun, keduanya sama-sama terjadi dalam konteks operasi penanganan karhutla di Kalimantan.

Rentang waktu yang berdekatan membuat aspek keselamatan operasi penerbangan perlu menjadi bagian dari evaluasi penanganan bencana, tanpa terlebih dahulu menyimpulkan bahwa kedua kecelakaan memiliki penyebab yang sama.

Keselamatan Armada dan Prosedur Operasi Perlu Dievaluasi

Penggunaan helikopter dalam penanganan karhutla memiliki peran strategis, terutama untuk menjangkau titik api yang sulit diakses melalui jalur darat.

Namun, operasi water bombing memiliki karakteristik penerbangan yang membutuhkan pengendalian dan koordinasi ketat. Proses pengambilan air, manuver pada ketinggian rendah, serta pengangkutan beban menggunakan perangkat khusus merupakan bagian dari operasi yang perlu diperhitungkan dalam penilaian risiko penerbangan.

Dalam konteks tersebut, sejumlah aspek layak menjadi perhatian pemeriksaan, mulai dari kondisi teknis armada, riwayat pemeliharaan, kelayakan terbang, kondisi cuaca, prosedur operasional, hingga kesiapan dan koordinasi kru.

Pemeriksaan tersebut penting untuk mengetahui apakah terdapat faktor teknis, lingkungan, maupun operasional yang berkontribusi terhadap kecelakaan.

Namun, sampai laporan ini disusun, belum terdapat hasil investigasi resmi yang mengungkap penyebab jatuhnya Super Puma VH-HGM. Karena itu, dugaan mengenai kerusakan mesin, kesalahan prosedur, faktor cuaca, maupun kelalaian awak belum dapat dinyatakan sebagai penyebab kejadian.

Menunggu Hasil Pemeriksaan Resmi

Dua kecelakaan helikopter dalam empat hari menjadi rangkaian peristiwa yang perlu dicermati dalam pelaksanaan operasi udara penanganan karhutla di Kalimantan.

Selain memastikan penanganan korban dan evakuasi armada, pengungkapan penyebab kecelakaan menjadi langkah penting untuk mengetahui faktor risiko yang terjadi selama operasi berlangsung.

Publik berhak memperoleh informasi mengenai hasil pemeriksaan, termasuk evaluasi keselamatan penerbangan dan langkah pencegahan agar kecelakaan serupa tidak terulang.

Hingga kini, BNPB belum menyampaikan kesimpulan akhir mengenai penyebab kecelakaan Super Puma VH-HGM di Sungai Barito. Hasil pemeriksaan pihak berwenang tetap menjadi dasar untuk menjelaskan secara objektif apa yang sebenarnya terjadi.

(Bet)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses