HALLO NUSANTARA || LUMAJANG — Aktivitas vulkanik Gunung Semeru di Jawa Timur kembali menunjukkan intensitas tinggi. Dalam rentang Minggu (8/11/2026) pagi, gunung api tersebut tercatat mengalami empat kali erupsi, dengan letusan tertinggi menghasilkan kolom abu sekitar 500 meter di atas puncak.
Berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), erupsi pertama terjadi pukul 04.46 WIB dengan tinggi kolom abu sekitar 400 meter. Letusan berikutnya tercatat pukul 05.04 WIB dengan tinggi sekitar 300 meter, kemudian pukul 05.22 WIB mencapai sekitar 400 meter.
Erupsi keempat terjadi pukul 08.40 WIB dengan kolom abu mencapai sekitar 500 meter di atas puncak atau sekitar 4.176 meter di atas permukaan laut.
Petugas pengamatan melaporkan kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas tebal dan bergerak ke arah barat daya serta barat. Letusan terakhir tersebut terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum 15 milimeter dan durasi 103 detik.
Rentetan letusan tersebut menunjukkan aktivitas erupsi masih berlangsung. Kondisi ini menjadi perhatian khusus mengingat Semeru merupakan salah satu gunung api aktif di Indonesia.
Status Level III, Zona Bahaya Tetap Berlaku
Di tengah aktivitas erupsi berulang, status Gunung Semeru masih berada pada Level III atau Siaga. Belum ditemukan keterangan resmi mengenai perubahan status menjadi Level IV atau Awas dalam data terbaru yang berhasil dihimpun.
PVMBG menetapkan sejumlah pembatasan aktivitas masyarakat untuk mengurangi risiko terdampak material vulkanik.
Masyarakat dilarang melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga radius 13 kilometer dari puncak.
Selain itu, masyarakat diminta menjauhi sempadan sungai sejauh 500 meter dari tepi aliran Besuk Kobokan. Kawasan tersebut berpotensi terdampak perluasan awan panas dan aliran lahar hingga 17 kilometer dari puncak.
Larangan aktivitas juga berlaku dalam radius lima kilometer dari kawah atau puncak Semeru karena kawasan tersebut rawan terhadap lontaran batu pijar.
Ancaman Tidak Hanya Berasal dari Abu Vulkanik
PVMBG turut mengingatkan potensi awan panas guguran, guguran lava, dan lahar yang dapat mengancam kawasan di sepanjang aliran sungai berhulu di puncak Semeru.
Wilayah yang harus mendapat perhatian meliputi Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, termasuk sungai-sungai kecil yang terhubung dengan aliran tersebut.
Ancaman lahar juga perlu diantisipasi ketika hujan mengguyur kawasan hulu. Endapan material vulkanik yang terbawa aliran air dapat bergerak menuju wilayah yang lebih rendah dan mengancam aktivitas masyarakat di sepanjang bantaran sungai.
Karena itu, masyarakat diminta tidak menggunakan sungai sebagai jalur aktivitas selama berada dalam zona rekomendasi bahaya.
Pemantauan Harus Mengikuti Perkembangan Aktivitas
Data pengamatan kegempaan periode pukul 00.00–06.00 WIB pada 8 November mencatat 20 kali gempa letusan atau erupsi, delapan kali gempa guguran, enam kali gempa hembusan, dan satu kali gempa tektonik jauh.
Catatan tersebut merupakan hasil pengamatan dalam periode enam jam dan tidak boleh disamakan dengan jumlah keseluruhan aktivitas sepanjang hari.
Sementara itu, pembaruan data yang berhasil dihimpun hingga pukul 12.05 WIB menunjukkan empat kejadian erupsi pada hari tersebut, dengan kolom abu tertinggi mencapai 500 meter.
Hingga batas pembaruan informasi yang digunakan dalam pemberitaan ini, belum tersedia keterangan terverifikasi mengenai korban jiwa maupun kerusakan permukiman akibat empat erupsi tersebut.
Masyarakat di sekitar kawasan Semeru diimbau mengikuti perkembangan informasi resmi PVMBG, MAGMA Indonesia, dan BPBD setempat serta mematuhi seluruh rekomendasi keselamatan.
Aktivitas vulkanik yang masih berlangsung membuat pemantauan terhadap perubahan kegempaan, tinggi kolom abu, potensi awan panas, dan aliran lahar tetap diperlukan.
Sumber: PVMBG
(Bet)















