Polemik

Polemik Jatigede, Mantri Luar Keraton Sumedang Larang Angkat Bicara : “Yudi T Sunardja Adalah Kunci Dan Sebagai Pemegang Mandat”

139
×

Polemik Jatigede, Mantri Luar Keraton Sumedang Larang Angkat Bicara : “Yudi T Sunardja Adalah Kunci Dan Sebagai Pemegang Mandat”

Sebarkan artikel ini

Hallonusantara.com || SUMEDANG – Proyek bendungan Jatigede merupakan salah satu proyek nasional terbesar di Indonesia yang ada di Sumedang Jawa Barat, yang diresmikan pada tahun 2015 dan mulai beroperasi penuh pada tahun 2017.

Proyek ini ternyata sudah dicanangkan sejak zaman pemerintahan Hindia – Belanda yang kala itu merencanakan pembangunan tiga waduk disepanjang aliran sungai Cimanuk, dan waduk Jatigede merupakan waduk utama yang paling besar. Namun rencananya gagal karena karena mendapat penolakan dari masyarakat Sumedang.

Seiringnya waktu, rencana pembangunan waduk Jatigede kembali disuarakan. Dari catatan sejarah ada 28 Desa di kecamatan Jatigede, kecamatan Wado, Kecamatan Jatinunggal dan kecamatan Darmaraja yang masuk area genangan.

Proses perjalanan pembangunan waduk Jatigede sangatlah panjang, dimulai relokasi pertama di tahun 1982, kemudian desain pembangunan di tahun 1988, dan 20 tahun kemudian dilakukan proses konstruksi pada 2007 – 2015. Hingga terwujudnya bendungan waduk Jatigede saat ini.

Selama perjalanan proses pembangunan tentunya terjadi berbagai rintangan/polemik, seperti halnya saat ini polemik di Jatigede masih berlanjut karena beberapa hal belum dituntaskan seperti permasalahan pembebasan lahan, limbah, dan ketenagakerjaan.

Saat ini polemik yang mencuat adalah terkait pengelolaan limbah di PT. Jo Sinohydro dan pesangon karyawan, dan pendampingan pembebesan lahan yang belum diselesaikan PT. PLN di Desa karedok dan sekitarnya.

Terkait ke tiga polemik tersebut, Rd. Asep Sulaiman Fadil Adiwinata, penata keraton Sumedang Larang dan sebagai Mantri Luar Keraton turut angkat bicara. Dia menjelaskan bahwa dalam perjalanan yang cukup panjang terkait pembangunan waduk Jatigede, dimulai proses relokasi sampai berjalannya proses pembangunan tentunya banyak aktor yang berkepentingan yang terlibat selama perjalanan pembangunan.

Keterangan Gambar : Yudi T Sunardja, saat usai penandatanganan MOU bersama management Jo Sinohydro.

” Pembangunan waduk Jatigede merupakan proyek nasional yang menelan anggaran yang fantastis, dan saya kira pasti banyak aktor intelektual yang berkepentingan turut andil dan ingin meraup keuntungan dalam pembangunan ini, ” kata Asep saat dikonfirmasi awak media.

” Dan dalam mewujudkan cipta kondisi tentunya bayak melibatkan pihak, baik itu pemerintah, unsur TNI/polri, lembaga sampai tingkat masyarakat, ” ujarnya.

Salah satunya, lanjut Asep, ada seorang tokoh di Sumedang yaitu Yudi T Sunardja yang kala itu aktif di salah satu lembaga dan mampu memperjuangkan aspirasi masyarakat dan mampu memberdayakan masyarakat.

” Yudi yang saat itu aktif di lembaga dalam memperjuangkan hak masyarakat awal baik-baik saja, tapi tiba-tiba Yudi di berhentikan di kelembagaan dan polemik pun muncul, karena pasca diberhentikan nya Yudi di lembaga tersebut, muncul aktor intelektual yang mengaku aktif di lembaga untuk membantu masyarakat sambil menghembuskan isu yang negatif tentang diberhentikannya Yudi, ” papar Asep.

” Dan saya meyakini, kejadian ini diciptakan sedemikian rupa oleh aktor intelektual yang mau merampas segala apa yang telah diperjuangkan oleh sdr. Yudi, dengan memanfaatkan situasi yang ada, ” ujar Asep.

Dengan kejadian ini Asep tentunya tidak percaya, bahkan mendengar isu yang disebarkan dinilai sangat jahat dengan modus melemahkan seseorang untuk meraup keuntungan diatas penderitaan orang lain.

” Sebagai Mantri Luar Keraton, tentu saya harus mengambil sikap dan menjelaskan kepada masyarakat agar masyarakat tidak terpengaruh oleh orang-orang yang berniat jahat dan tidak bertanggungjawab, ” ungkap Asep.

” Saya bukan membela Yudi dan saya tidak tau urusannya selama dia di lembaga, tapi saya sangat faham siapa itu Yudi, dan saya yakinkan dia tidak seperti itu, karena saya sudah sangat kenal betul dengan Yudi dan karakternya, ” tegasnya.

Saya mengetahui percis perjalanan yang Yudi lakukan dalam membela hak masyarakat, bertahun-tahun dia jalani tanpa meminta imbalan kepada masyarakat yang dibelanya.

” Seluruh perjuangan Yudi dalam membela masyarakat untuk mendapatkan haknya, tertuang dan tertata dalam dokumen yang resmi dan itu kehendak masyarakat sendiri yang menyatakan , ” papar Asep.

Begitu pun dalam hal pemberdayaan, Yudi mendorong masyarakat sekitar agar dapat berdaya, juga dalam pengolahan limbah Yudi di percaya oleh pihak management perusahaan ( Jo Sinohydro ) untuk mengolahnya, bukan atas nama lembaga. Dan semua itu dituangkan dalam dokumen suket resmi oleh pihak manajemen perusahaan, menunjukan dan mempercayakan kepada Yudi.

” Dalam pendampingan karyawan, Yudi dianggap mampu memberikan arahan dan contoh yang baik sehingga tata kelola kerja tercipta dengan terjalinnya saling menghormati, saling menghargai diantara pekerja dibangun dalam kebersamaan dan kekompakan. Sehingga pengelolaan limbah dipercayakan kepada beliau oleh Jo Sinohydro, ” papar Asep.

Selaku penata keraton Sumedang Larang dan Mantri Luar Keraton tuturnya, mengingatkan jangan sampai masyarakat terhasut isu-isu yang tidak jelas dan terperdaya oleh iming-iming yang justru dapat merugikan.

” Saya harap masyarakat jangan termakan isu dan iming-iming yang dapat merugikan bersama, dan jangan percaya terhadap oknum-oknum yang tidak jelas yang berupaya merampas hak masyarakat yang selama ini telah dan sedang diperjuangkan, ” kata Asep.

” Saya yakini, bahwa kebenaran pasti akan menang dan yang berniat jahat akan terungkap, ” tegasnya.

” Saya ingatkan, bahwa Yudi T Sunardja adalah sosok yang baik dan bertanggung jawab. Dia adalah kunci dan sebagainya pemegang mandat. Karena mandat dari masyarakat jelas dan MOU yang diberikan oleh Jo Sinohydro kepada Yudi itu nyata di tuangkan dalam dokumen yang ditandatangani oleh management dan stempel Jo Sinohydro,” yakinnya.

Semoga polemik ini segera berakhir. Polemik ini bukan hanya sekedar masalah nominal yang ada dalam objek, tetapi ini merupakan perjalanan pembuktian tentang perjalanan hidup dan kehidupan, dimana kebenaran dan kejahatan yang sebenarnya akan terungkap.

Beberapa cendikiawan budaya dan ahli spiritual meramalkan, proses perjalanan Jatigede merupakan gambaran akan munculnya madangan hibar buana, yang mana Jatigede merupakan wilayah Aji Putih dimana pemutihan hukum gugat dan gugat sapu jagat akan kembali ke asal guna membangun peradaban manusia baru dari timur.

Sehingga terwujudnya otoritas murni dan Sumedang akan menjadi puser sebagai mercusuar dunia.

(Agus HD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses