Seni & Budaya

Seni Rupa Cianjur Butuh Keberlanjutan, Metty Dorong Ruang Ekspresi Tak Sekadar Seremoni Pameran

60
×

Seni Rupa Cianjur Butuh Keberlanjutan, Metty Dorong Ruang Ekspresi Tak Sekadar Seremoni Pameran

Sebarkan artikel ini

HALLO NUSANTARA || CIANJUR — Keberadaan seni rupa di Kabupaten Cianjur tidak cukup hanya ditandai dengan pembukaan pameran dan kegiatan seremonial. Dibutuhkan keberlanjutan ruang berkarya, dukungan terhadap seniman, serta keterlibatan masyarakat agar kehidupan seni dan kebudayaan benar-benar tumbuh sebagai bagian dari identitas daerah.

Persoalan tersebut menjadi perhatian Ketua DPRD Kabupaten Cianjur, Ir. Hj. Metty Triantika, M.T., saat menghadiri pembukaan pameran tunggal perupa Widhi NRS bertajuk Fragmensia #1: Lika-Liku Laku di Art Space by DKC, Gedung Dewan Kesenian Cianjur, Jalan Slamet, Kelurahan Bojongherang, Sabtu (7/11/2026).

Dalam kesempatan itu, Metty mendorong agar kegiatan seni rupa terus diselenggarakan dan mendapat ruang dalam perkembangan pembangunan Kabupaten Cianjur. Menurut dia, aktivitas berkesenian memiliki hubungan dengan pembentukan karakter kota, karena ruang seni menjadi tempat tumbuhnya kreativitas, interaksi sosial, dan ekspresi kebudayaan masyarakat.

Metty mengapresiasi pameran yang menampilkan 25 karya figuratif dalam medium dua dan tiga dimensi tersebut. Ia berharap kegiatan serupa tidak berhenti pada satu agenda, melainkan menjadi aktivitas berkelanjutan yang membuka kesempatan lebih luas bagi para perupa untuk memperkenalkan karya kepada publik.

Sebagai penikmat seni, Metty mengamati karya-karya Widhi dengan didampingi kurator Novandy Fiardillah atau Novan. Penjelasan mengenai gagasan, simbol, dan perjalanan kreatif sang perupa menjadi bagian dari pengenalan terhadap pesan yang dibangun melalui setiap karya.

Dengan latar belakang pendidikan planologi, Metty mengaitkan keberadaan ruang seni dengan pembangunan kota. Identitas sebuah daerah, menurut pandangan yang disampaikannya, tidak hanya dibentuk melalui pembangunan fisik, tetapi juga melalui kehidupan kebudayaan yang memberikan ruang bagi kreativitas masyarakat.

Ekosistem Seni Rupa Menjadi Tantangan

Ketua Umum Dewan Kesenian Cianjur (DKC), Benben Bella, dalam surat undangan kepada Metty menjelaskan bahwa pameran tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat ekosistem seni rupa, memperluas jaringan industri kreatif, serta menyediakan ruang representatif bagi karya para seniman.

Direktur Art Space by DKC, Alexander Chris, bersama jajaran DKC juga menyampaikan apresiasi atas perhatian Metty terhadap perkembangan seni dan kebudayaan, khususnya seni rupa di Cianjur.

Pameran Fragmensia #1: Lika-Liku Laku merupakan penyelenggaraan keempat dalam program Art Space by DKC. Namun, bagi Widhi, agenda tersebut memiliki arti tersendiri karena menjadi pameran tunggal perdananya setelah lebih dari satu setengah dekade berkarya.

Mengusung istilah Fragmensia, akronim dari Fragmen Manusia, pameran ini memperlihatkan perjalanan artistik Widhi yang beralih dari pendekatan abstrak ekspresif menuju penggambaran figur manusia dengan simbolisme yang kuat.

Peralihan tersebut bukan sekadar perubahan teknik melukis. Widhi menjadikannya sebagai proses untuk kembali mempelajari manusia, termasuk pengalaman emosional dan dinamika psikologis yang membentuk kehidupan batin.

“Hal yang saya garis bawahi dalam pameran ini adalah bagaimana cara kita merespons dinamika psikologis yang ada dalam pikiran kita selaku manusia,” kata Widhi.

Kurator Novandy Fiardillah menjelaskan bahwa pameran tersebut mengangkat lima suasana batin manusia, yakni kesedihan, penyangkalan, kemarahan, ketenangan, dan penerimaan.

Konsep penerimaan turut diterjemahkan melalui penggunaan warna biru pada ruang pamer untuk menghadirkan kesan lega bagi pengunjung.

Seni, Identitas, dan Arah Kebudayaan Daerah

Pembukaan pameran turut dihadiri sejumlah tokoh seni, budaya, akademisi, dan pemerhati kebudayaan. Di antaranya Tatang Setiadi atau Abah Tatang, maestro seni tradisi Sunda asal Cianjur yang menerima Anugerah Kebudayaan Indonesia 2024 kategori Maestro Seni Tradisi dari Kemendikbudristek.

Hadir pula Prof. Dr. Ir. H. Ika Djatnika, ilmuwan bidang pertanian yang memiliki perhatian terhadap kebudayaan Sunda, serta akademisi Universitas Maranatha Bandung, Dr. Ismet Zainal Effendi, yang menyampaikan pidato pembukaan.

Tokoh lainnya adalah Neng Wina Resky Agustina, dosen Transformasi Budaya Sunda Universitas Suryakancana Cianjur sekaligus Ketua Yayasan Kebudayaan Lokatmala Indonesia, serta Saep Lukman, anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Cianjur.

Sejumlah guru seni rupa, mahasiswa, tokoh kebudayaan, dan perupa Cianjur juga menghadiri kegiatan tersebut.

Dalam pidato pembukaannya, Ismet menyoroti pentingnya apresiasi seni untuk membangun kepekaan masyarakat terhadap nilai estetika di lingkungan sekitarnya.

Ia mengingatkan bahwa masyarakat Cianjur memiliki tradisi estetis yang luhur, sehingga nilai-nilai kebudayaan tersebut perlu terus dikenali dan dipelihara dalam kehidupan masyarakat.

“Orang Cianjur juga sejatinya memiliki tradisi estetis yang luhur, khususnya digambarkan lewat pilar budaya kita,” ujar Ismet.

Pameran Fragmensia #1: Lika-Liku Laku berlangsung hingga Desember 2026. Selain menampilkan karya seni rupa, kegiatan tersebut dilengkapi klinik pendampingan, bincang seniman, serta lokakarya pewarnaan dan pelukisan di atas keramik hasil kolaborasi Widhi dengan Pancaniti Keramik.

Rangkaian kegiatan itu memperluas ruang pertemuan antara seniman dan masyarakat, sekaligus memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk mengenal proses kreatif di balik karya seni.

Di tengah pembangunan daerah yang terus berjalan, keberlanjutan ruang kebudayaan menjadi bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dari pembentukan identitas Cianjur. Pameran dapat menjadi pintu masuk, tetapi keberadaan ekosistem yang memberi kesempatan seniman untuk terus berkarya dan masyarakat untuk mengapresiasi seni merupakan pekerjaan yang membutuhkan kesinambungan.

(Bet)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses