Daerah

Konflik Iran–Amerika Guncang Energi Dunia, Ahli Geologi ITB Ungkap Besarnya Potensi Panas Bumi Indonesia

3
×

Konflik Iran–Amerika Guncang Energi Dunia, Ahli Geologi ITB Ungkap Besarnya Potensi Panas Bumi Indonesia

Sebarkan artikel ini

Hallonusantara.com || Cianjur — Ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat kembali memicu kekhawatiran terhadap stabilitas energi global. Konflik di kawasan Timur Tengah dinilai berpotensi mengganggu pasokan minyak dan gas dunia, memicu lonjakan harga energi internasional, serta berdampak pada ketahanan energi berbagai negara, termasuk Indonesia.

Ahli geologi panas bumi dari Institut Teknologi Bandung, Niniek Rina Herdianita, menyatakan konflik geopolitik di kawasan penghasil minyak dunia memiliki dampak langsung terhadap rantai pasok energi global. Gangguan distribusi minyak dan gas di wilayah produsen utama dapat mendorong kenaikan harga energi internasional dan memberikan tekanan ekonomi bagi banyak negara.

Menurut Niniek, dinamika geopolitik energi global tersebut berkaitan erat dengan konsep Trilema Energi, yaitu keseimbangan antara ketahanan pasokan energi, keterjangkauan harga energi bagi masyarakat, serta keberlanjutan lingkungan.

“Ketahanan energi berkaitan dengan bagaimana negara memastikan ketersediaan pasokan energi secara berkelanjutan, baik dari sumber domestik maupun impor, sementara permintaan energi terus meningkat,” ujar Niniek kepada media, Sabtu (25/4/2026).

Ia menjelaskan, konflik geopolitik seperti ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat dapat mengganggu distribusi minyak dunia. Kondisi ini berpotensi memicu kenaikan harga minyak dan gas di pasar internasional yang kemudian berdampak pada meningkatnya biaya energi nasional.

“Ketika harga minyak dan gas meningkat di pasar global, dampaknya akan merambat ke sektor industri, transportasi hingga kebutuhan rumah tangga. Karena itu stabilitas pasokan energi menjadi faktor penting bagi perekonomian,” katanya.

Dalam situasi tersebut, penguatan ketahanan energi nasional dinilai menjadi langkah strategis bagi Indonesia. Pemerintah didorong untuk memaksimalkan pemanfaatan sumber energi domestik guna mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak dan gas dari kawasan konflik geopolitik.

Saat ini, bauran energi nasional Indonesia masih didominasi batu bara karena ketersediaannya melimpah serta biaya produksinya relatif rendah. Namun pemerintah menargetkan peningkatan pemanfaatan energi baru dan terbarukan sebagai bagian dari komitmen menuju target Net Zero Emission 2060.

Menurut Niniek, Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan energi terbarukan, khususnya energi panas bumi atau geothermal yang cadangannya termasuk terbesar di dunia.

“Potensi panas bumi Indonesia sangat besar dan dapat menjadi salah satu pilar utama dalam transisi menuju energi bersih,” ujarnya.

Meski demikian, pengembangan energi panas bumi masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama pada tahap eksplorasi yang membutuhkan investasi besar serta memiliki risiko geologi yang tinggi.

“Eksplorasi dan pengembangan panas bumi membutuhkan waktu panjang serta biaya besar. Karena itu skema investasi dan kebijakan energi harus dirancang agar tetap menarik bagi investor,” jelasnya.

Ia menilai meningkatnya ketegangan geopolitik global, potensi krisis energi dunia, serta komitmen internasional terhadap pengurangan emisi karbon dapat menjadi momentum bagi Indonesia untuk mempercepat pengembangan energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, dan panas bumi.

Namun demikian, aspek ekonomi tetap menjadi tantangan utama dalam pengembangan energi bersih, terutama dalam menjaga keseimbangan harga energi agar tetap terjangkau bagi masyarakat sekaligus menarik bagi investor.

“Yang penting adalah menjaga harga energi terbarukan tetap seimbang, sehingga masyarakat dapat mengakses energi dengan harga terjangkau dan investor tetap memiliki kepastian ekonomi,” kata Niniek.

Ia menegaskan bahwa bagi negara berkembang seperti Indonesia, pengembangan energi terbarukan tidak hanya berkaitan dengan isu lingkungan, tetapi juga menjadi strategi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan energi nasional, mengurangi ketergantungan impor minyak, serta menjaga stabilitas ekonomi di tengah dinamika geopolitik global.

(Bet) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses