HALLO NUSANTARA || CIANJUR — Kemarau panjang memukul produksi jagung di Kabupaten Cianjur. Sejumlah petani jagung hibrida dilaporkan mengalami gagal panen, sementara pasokan yang masuk ke Perum Bulog Cabang Cianjur belum mampu memenuhi target penyerapan. Untuk menutup kekurangan stok, Bulog terpaksa mengandalkan pasokan dari luar daerah, termasuk Gorontalo Utara.
Kondisi ini memperlihatkan persoalan pada rantai pasok jagung, terutama ketika produksi lokal terganggu dan kebutuhan bahan baku pakan ternak tetap harus dipenuhi. Di tengah situasi tersebut, Bulog Cianjur masih mengejar target penyerapan 945 ton sepanjang 2026.
Kepala Cabang Perum Bulog Cianjur, Muhammad Azwar Fuad, mengatakan realisasi penyerapan hingga Sabtu, 7 November 2026, baru mencapai sekitar 80 persen. Artinya, masih terdapat sekitar 189 ton yang harus dipenuhi untuk mencapai target tahunan.
“Kita masih kekurangan stok jagung. Kemarau panjang membuat banyak petani jagung hibrida gagal panen, sehingga penyetoran ke Bulog belum mencapai target. Solusinya, kita datangkan pasokan dari Gorontalo Utara, pusat jagung hibrida dan jagung pipih. Diharapkan masuk pada minggu pertama November,” kata Azwar kepada wartawan, Sabtu, 7 November 2026.
Ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah menjadi persoalan yang perlu diperhatikan. Ketika hasil panen petani lokal merosot, ketersediaan jagung untuk kebutuhan pakan ternak ikut menghadapi tekanan. Sementara itu, belum terdapat penjelasan terperinci mengenai volume pasokan yang akan didatangkan, kepastian jadwal kedatangan, serta kontribusinya terhadap pemenuhan kekurangan stok.
Bulog menyatakan penyerapan jagung merupakan bagian dari penugasan pemerintah, selain program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras. Penyaluran jagung SPHP ditujukan kepada asosiasi atau koperasi peternak ayam petelur yang telah terdaftar di Badan Pangan Nasional (Bapanas).
Di Cianjur, terdapat dua koperasi yang disebut sebagai penerima program, yakni Bina Satwa dan Pinsar Petelur Nasional.
“Untuk jagung kita juga punya penugasan, selain SPHP beras. Jagung SPHP disalurkan kepada asosiasi atau koperasi peternak ayam petelur yang sudah terdaftar di Bapanas. Di Cianjur ada dua koperasi, yaitu Bina Satwa dan Pinsar Petelur Nasional,” ujar Azwar.
Untuk mengantisipasi kekurangan pasokan pada musim paceklik, Bulog menyiapkan skema penyerapan dan penyimpanan jagung melalui mekanisme Resi Gudang. Ketika panen melimpah, hasil produksi petani diserap dan disimpan sebagai cadangan. Stok tersebut kemudian dapat disalurkan kembali kepada peternak ketika produksi menurun.
Dalam skema yang dijelaskan Bulog, harga jagung bagi peternak diperkirakan sekitar Rp5.500 per kilogram. Angka itu lebih rendah dibandingkan harga pasar yang sempat menyentuh Rp7.800 per kilogram.
Selisih harga sekitar Rp2.300 per kilogram tersebut berpotensi membantu menekan biaya produksi peternak ayam petelur. Namun, manfaat program sangat bergantung pada ketersediaan stok, kepastian distribusi, dan keterjangkauan harga bagi penerima.
Persoalan berikutnya adalah bagaimana memastikan skema cadangan tersebut benar-benar berjalan ketika petani mengalami gagal panen. Sebab, mekanisme penyimpanan tidak akan cukup apabila volume jagung yang diserap sejak musim panen juga terbatas.
Azwar mengatakan target penyerapan tahun ini mencapai 945 ton dengan sumber pasokan dari petani lokal maupun antar-cabang. Hingga saat ini, realisasinya baru sekitar 80 persen. Sisa target sebesar 20 persen masih dikejar.
“Penyaluran jagung tidak seluas beras SPHP, hanya untuk koperasi peternak yang ditetapkan Bapanas. Tujuannya jelas menjaga biaya produksi peternak tetap terjangkau sekaligus memberi kepastian pasar bagi petani jagung lokal,” kata Azwar.
Meski demikian, sejumlah persoalan masih membutuhkan penjelasan terbuka, mulai dari kepastian pasokan luar daerah, mekanisme penetapan harga, volume cadangan yang tersedia, hingga jangkauan penerima manfaat program.
Bagi petani, persoalan utamanya bukan sekadar tersedianya pembeli ketika panen, melainkan juga perlindungan terhadap risiko gagal panen dan kepastian penyerapan hasil produksi. Bagi peternak, yang dibutuhkan bukan hanya janji harga lebih murah, tetapi ketersediaan jagung secara berkelanjutan.
Di tengah tekanan kemarau dan belum terpenuhinya target penyerapan, keberhasilan program Bulog Cianjur akan ditentukan oleh kemampuan menjaga pasokan dari hulu hingga hilir. Target 945 ton bukan hanya angka penyerapan, tetapi juga ukuran sejauh mana intervensi pemerintah mampu menjawab persoalan produksi petani dan kebutuhan bahan baku pakan ternak.
(Bet)















